Pengikut

Jumat, 15 Januari 2016

Ayah Juga Ikut Andil dalam Tumbuh Kembang Anak


Sejumlah riset dan studi menunjukkan, keterlibatan para ayah dalam mengasuh anak sangat penting dan dapat memberikan kontribusi positif bagi anak dalam kehidupannya kelak. Berikut ini beberapa hal yang akan dimiliki anak saat Ayah ikut andil dalam mengasuhnya.
1. Lebih percaya diri
Saat bermain dengan anak, Anda kan lebih senang mengajak anak melakukan aktivitas fisik seperti berlari, melompat, melempar, atau memanjat. Menurut Melanie Horn-Mallers Ph.D, profesor di California State University, Fullerton, AS dan pakar mengenai studi keluarga, aktivitas ini bisa membuat anak lebih percaya diri. Soalnya Anda akan mendorong ayunan lebih kencang atau menyemangati anak untuk berani meluncur dari tempat yang tinggi. Ketika berhasil melakukannya, si kecil tentunya akan semakin pede. Seolah Anda ingin mengatakan, “Nak, dunia ini adalah tempat yang aman. Jadi mari menjelajahinya dan percayalah dengan kemampuanmu.”
2. IQ yang lebih tinggi
Penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph, Ontario, Kanada, pada tahun 2007 yang berjudul The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence, bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, mereka juga memiliki IQ lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun dan berkembang menjadi individu yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih baik.
3. Berani mengambil risiko
Ketika mengasuh anak, ibu cenderung khawatir dengan keselamatan anak. Sebaliknya Anda mendorong anak untuk berani mengambil risiko. Psikolog Daniel Paquette dari University of Montreal, Montreal, Kanada, dalam studinya berjudul Theorizing the Father-Child Relationship: Mechanisms and Developmental Outcomes, menemukan fakta bahwa saat bermain dengan anak, ayah akan berusaha mendorong anak untuk mampu mengatasi hambatan dan berbicara dengan orang asing. Saat berenang misalnya, Anda akan menyemangati anak untuk bisa menyelam lebih dalam.
4. Pandai bersosialisasi
Dari riset terhadap 192 bayi yang dimuat dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry, Dr. Paul Ramchandani, psikiater anak dari University of Oxford, Inggris, menemukan, bayi yang memiliki bonding yang baik dengan ayahnya selama 3 bulan pertama kehidupannya, terbukti setelah bersekolah akan menjadi anak yang pandai bergaul, populer di antara teman-temannya, dan jarang memiliki masalah dengan teman-temannya. Begitu juga setelah dewasa dan bekerja, mereka tumbuh menjadi pribadi yang bahagia.
5. Lebih disiplin 
Ayah merupakan sosok yang tegas. Karena itu, saat mengasuh anak, Anda juga berusaha membuat anak disiplin dengan cara yang lebih tegas. Dalam bukunya yang berjudul Partnership Parenting, Dr. Kyle D. Pruett M.D., psikiater anak dan profesor di Yale University, AS, serta Marsha Kline Pruett, menulis, ayah lebih tegas daripada ibu dalam menghadapi anak dan menegakkan disiplin. Ibu, di sisi lain, lebih mengandalkan ikatan emosional untuk mengubah perilaku anak. Pendekatan yang beragam dari Anda dan istri ini terbukti sangat efektif dalam mendisiplinkan anak.
6. Berani mencoba hal baru
Ketika bermain dengan anak, ayah tidak sekadar menghibur si kecil. Berbeda dengan ibu yang cenderung selalu memberikan rasa aman dan melindungi saat mengasuh anak, menurut Norma L. Radin, pakar perkembangan anak dan profesor di University of Michigan, AS, ayah mengajak anak untuk berani berinteraksi dengan dunia di sekitarnya dan dengan orang lain. Anda juga mendorong anak untuk dapat mengeksplorasi kekuatannya sendiri dan berani mencoba hal-hal baru, tentunya tetap dalam pengawasan Anda.
7. Lebih toleran dan pengertian
Menurut Dr. Howard Dubowitz, MD, ahli pediatri di University of Maryland Medical Center, Baltimore, AS, dalam artikelnya Father Involvement and Children’s Functioning at Age 6 years: A Multisite Study, anak perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya memiliki kenyamanan diri lebih tinggi dan lebih sedikit merasa depresi. Sedangkan anak laki-laki yang diasuh dengan keterlibatan ayah akan lebih mengenal dunia pria. Ia akan lebih sedikit merasa agresif, impulsif, dan tidak egois. Pada saat dewasa kelak, mereka akan menjadi orang yang lebih toleran dan pengertian
8. Lebih aktif
Kegiatan yang biasa dilakukan ayah dengan anak misalnya mencuci mobil, belajar naik sepeda, atau, bermain bola. Aktivitas itu membuat anak terhindar dari kegemukan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, 18,8% anak berusia 5-12 tahun mengalami masalah kegemukan, dengan perincian kategori gemuk 10% dan sangat gemuk 8,8%.
9. Lebih kreatif
Saat bersama anak, ayah akan mengisinya dengan aktivitas yang ‘liar’, membuat mobil-mobilan dari kardus bekas, menggunakan sarung bermain Ninja atau membaca dongeng dengan beragam ekspresi wajah. Pokoknya, kreativitas ayah beda dengan ibu. Menurut Mark Runco, Ph.D, Direktur Torrance Center for Creativity & Talent Development di University of Georgia, AS, semua anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif dan tugas orangtua untuk mewujudkannya. Anda ikut serta mengembangkannya.
10. Lebih Spontan
Saat akan pergi berkemah, misalnya, seorang ibu akan menyiapkan bekal makanan. Sementara ayah lebih suka bereksperimen secara spontan untuk memasak menggunakan api unggun. Bagi Anda, yang terpenting adalah anak mendapat pengalaman baru dan belajar menghadapi risiko. Karena itu, menurut Howard Steele, Direktur Attachment Research Center Unit dari University College London, Inggris, cara itu membuat anak lebih berani untuk mengutarakan pendapat dan lebih spontan dalam bertindak.

WANITA SOLEHAH


Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah,” (HR. Muslim).
WANITA shalihah selalu menjaga pandangannya, senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Make up-Nya basuhan air wudhu saat shalat tiba. Lipstiknya dzikir memuji keagungan Tuhannya. Jika muslimah menghiasi dirinya dengan takwa, akan terpancar cahaya keshalihan dalam dirinya.
Wanita shalihah selalu menjaga imannya, karena iman adalah kekayaan termahalnya. Dia juga benar-benar menjaga kata-kata. Tidak ada dalam sejarah centil menjadi sifatnya. Apalagi jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat bahagia.
Wanita shalihah selalu menjaga tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna. Dia sadar bahwa kemuliaan itu adalah menjaga dirinya (Iffah).
Wanita shalihah itu selalu murah senyum, karena senyum itu sendiri adalah shadaqah. Namun, tentu saja senyumnya proporsional, tidak setiap laki-laki diberikan senyuman manis. Intinya, senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi siapa saja.
Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu ilmunya akan terus bertambah. Sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang yang ia temui. Dia juga sangat baik dalam menjaga muamalah kepada Allah dan manusia.
Wanita shalihah selalu menjaga akhlaknya. Seperti rasa malu yang menjadi ukuran imannya. Segala tutur kata dan perbuatannya tidak akan menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah. Dan tentu saja godaan setan bagi dirinya sangat kuat. Jika demikian maka kualitas imannya berkurang. Semakin kurang iman seseorang, maka makin kurang rasa malunya.Semakin kurang rasa malunya, maka makin buruk kualitas akhlaknya.
Prinsip wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang dimilikinya. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi siapa saja.

Selasa, 12 Januari 2016

BERDOA

ADAB BERDO'A

1) Hamdalah (puji2an kpda Allah)....
2) Shalawat atas Nabi Muhammad saw....
3) Istighfar, yakni memohon ampun kepada Allah

Adab yg ketiga ini sebagai konsekuensi manusia hidup di dunianya sebagai pelaku dosa, sedangkan dampak dari dosa manusia kpd Allah itu berakibat ;
Semakin jauhnya kedudukan atau posisi hamba dari Allah. Perhatikan kisah Adam as.waktu di Syurga. Ketika Adàm belum melanggar larangan Allah posisinya dekat dg Allah, dipahami dari firman Allah kpd nya " Jangan kalian dekati pohon INI!" , tetapi sesudah Adam as. dan Hawa melanggar larangan itu, Allah berfirman " ...Bukankah ÀKU telah melarang kalian berdua dari Pohon ITU ". (Perhatikan QS.7:19 bandingkan dg QS .7: 22) . Perubahan isyarat "INI " dengan "ITU" , menunjukkan semula Adàm dengan Allah itu dekat berubah menjadi jauh seaudah berbuat dosa.
Dosa itu teejadi karena dua hal :
a) Meninggalkan perintah, atau
b) Melanggar larangan.
Padahal semua perintah2 Allah itu adalah sesuatu yang menyelamatkan dan menyenangkan hamba yang melaksanalannya. Oleh sebab itu jika hamba meninggalkan perintah Allah itu disebut  جهولا (Jahuulan) = sangat bodoh, disuruh selamat dan senang malah ditinggalkan.
Demikian pula semua larangan2 Allah itu adalah segala sesuatu yang mencelakakan dan menyengsarakan hamba yang melanggarnya Anehnya justru manusia melanggar larangan, karena itu manusia disebut ظلوما (zhaluuman)= sangat aniaya. QS.33:72
Kita sekarang paham mengapa Allah mengajarkan Kakek-Nenek moyang kita Adam-Hawa bertaubat dengan redaksi

ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخسرين .

Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunana minal khaasiriin

 Wahai Rabb kami, kami memang telah berbuat aniaya terhadap diri2 kami (dengan meninggalkan perintah, dan atau melanggar larangan),  dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan menyayangi kami niacaya kami termasuk orang2 yang merugi
QS.7:23.
Demikian  pula Nabi Nuh as mendahulukan iatighfar (memohon ampun) sebelum menyampaikan do'anya kepada Allah. QS.71:10-14
Dalam sebuah Riwayat Rasulullah saw yang dujamin Ampunan oleh Allah itu setiap hari beristighfar tidak kurang dari 70 kali.
Nabi2 Allah 'alahimussalam  saja sebelum berdo'a beristighfar memohon ampun kepada Allah. Bagaiamana dengan kita yg justru berlumuran dosa ?
نستغفرالله العظيم  الذي لا اله الا هو الحي القيوم ونتوب اليه

Ketika berdoa jangan lupa Hamdalah, Shalawat dan Istighfar.

“Barangsiapa yang ber-tawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya”. [Ath-Thaalaaq 3].
 ‎
‎Dibalik sikap ber-tawakkal kita wajib ber-ikhtiar yang dilengkapi dengan doa, karena doa berada pada peringkat setelah ikhtiar dan daya upaya telah dilakukan maksimal, namun janganlah mempertanyakan apakah segala doa atau permohonan kita akan dikabulkan-Nya, tetapi pertanyakanlah apakah kita telah mematuhi semua perintah-Nya.
 ‎
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka ber-iman kepada-Ku,”. [Al-Baqarah 186].
 ‎
Doa merupakan ikhtiar spiritual dan motivasi demi tercapainya sebuah tujuan, sebab itu ber-ikhtiarlah dan lengkapilah dengan doa sebagai tiang penyangga dan komponen penguat dari ikhtiar itu.‎
 ‎
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". [Al-Mu’min 60].‎
 ‎
Seseorang yang taat dan patuh kepada perintah-Nya, maka ada tiga macam bentuk pengabulan yaitu akan langsung dikabulkan atau ditunda waktunya, dan yang terakhir adalah akan diganti dengan yang terbaik, karena sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik bagi-Nya, sebab itu janganlah memaksakan kemauan atau kehendak.
 ‎
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. [Al-Baqarah 216].‎
 ‎
Doa adalah suatu realisasi penghambaan dan merupakan media komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya sebagai pernyataan hajat atau keperluan, namun janganlah mendikte atau memaksakan kehendak, sebalikmya ber-doalah dengan rasa takut serta merendah.‎
 ‎
“Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut tidak akan diterima dan harapan akan dikabulkan”. [Al-A’raaf 56].
 ‎
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut". [Al-A'raaf 55].
 ‎
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.
 ‎
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. [Shaad 29].
 ‎
Semoga renungan tengah bulan Rabiul Akhir yang pertama ini bermanfaat bagi kita untuk menjalankan semua perintah-Nya dalam Al-Quran agar dapat memohon segala kemaslahatan serta kebaikan yang ada disisi-Nya melalui berbagai doa. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. [BRH/TMI-Tafakur Meditasi Islam].‎

Mengenal 4 Madzhab dlm Fiqh

Rekaman kajian dlisya YISC Al Azhar...

Mengenal Madzhab 4 dalam Fiqh
DR. M Taufiq Q. Hulaimi, MA

Part 1
https://www.youtube.com/watch?v=HkNZavvNv8w

Part 2
https://www.youtube.com/watch?v=3Pg5Zn_zaiE

Part 3
https://www.youtube.com/watch?v=0eBYlnr6KWU

Part 4
https://www.youtube.com/watch?v=F7K-JoD2Fz0

Part 5
https://www.youtube.com/watch?v=5yN-CXzetnI

Pesan Untukmu - Kemana Kau Habiskan Waktumu

“Wahai ikhwan/akhwat yang mendapat taufiq-Nya, ini pesan-pesan khusus, yang di sampaikan sebagai nasehat karna peduli kepadamu.

Jika kau ambil, tentu itu akan menjadi sebab keselamatan, keberuntungan, kebahagiaanmu di dunia dan akherat.

Wahai ikhwan/akhwat…
Harusnya engkau menjaga dan melindungi masa mudamu, dengan menjauhi berbagai macam keburukan dan kerusakan, dengan meminta tolong dan tawakkal kepada Allah semata dalam menjalani itu semua.

Semua pintu, atau lorong, atau jalan menuju kepada keburukan atau kerusakan, maka jauhilah dan bersungguh-sungguhlah dalam mewaspadainya.

Wahai ikhwan/akhwat …
Harusnya engkau benar-benar menjaga kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dalam Agama Islam, terutama shalat, karena shalat bisa menjagamu dari keburukan dan bisa mengamankanmu dari kebatilan.

Karena shalat juga dapat menolongmu dalam melakukan kebaikan, dan menjadikanmu takut melakukan semua keburukan dan kebatilan

Wahai ikhwan/akhwat …
Harusnya engkau menunaikan hak-hak manusia yang Allah wajibkan kepadamu, dan yang paling besar dari hak-hak itu adalah hak dua orang tuamu, sungguh itu merupakan hak yang sangat agung dan kewajiban yang sangat besar.

Wahai ikhwan/akhwat ....
Harusnya engkau banyak berdo’a kepada Allah azza wajall, meminta agar diteguhkan dalam kebenaran dan petunjuk. Dan meminta agar Allah melindungimu dari keburukan dan kehinaan.
Karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akherat.

Wahai ikhwan/akhwat…
Harusnya engkau semangat untuk berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan saleh, karena ada kerugian besar dalam bersahabat dengan orang-orang buruk......

Wahai ikhwan/akhwat
Harusnya engkau selalu ingat bahwa engkau suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan menanyakan kepadamu akan masa muda ini, engkau habiskan untuk apa?!

Semoga Allah melindungimu dengan perlindungan yang diberikan kepada hamba-hambanya yang shaleh.

http://www.islamek.net/play.php?catsmktba=1798

👤  Baca selengkapnya di http://bbg-alilmu.com/archives/16222 )

TIADA WAKTU UNTUK MENGELUH

Kita paham kalau nikmat Allah sungguh tak sanggup untuk kita hitung.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. An Nahl: 18).

Kita juga paham kalau Allah Ta'ala pasti juga menguji kita.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

(QS Al-'Ankabuut : 2)

Ketahuilah...

Musibah yang menimpa kita hanyalah sesekali, sementara kenikmatan terus tercurah tiada henti.

Logikanya jika nikmat Allah Ta'ala itu banyak dan gak bisa kita hitung maka harusnya 'Tak Ada Waktu Untuk Mengeluh!'.

Allah berfirman :

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya"

(QS Al-'Adiyaat : 6)

Al-Hasan rahimahullah berkata :

Yaitu orang yg menghitung-hitung musibah (yg sedikit) dan melupakan kenikmatan-kenikmatan Robnya (yg telah banyak diberikan kepadanya).

(Tafsir Ibnu Katsir 8/467)

Sekarang pertanyaannya. Apakah kita termasuk ingkar ? Atau termasuk yang sabar ?

Ingat, jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba,
Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah  sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.

Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka.
Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut), maka baginya murka Allah.”

(HR. Tirmidzi no. 2396).

Semoga manfa'at

Senin, 11 Januari 2016

BIOGRAFI AL GHUMAISHA BINTI UMMU SULAIM




Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda tentangnya :
Aku memasuki Surga lalu aku mendengar suara, maka aku bertanya, “Siapakah ini?” Mereka berkata, “Ini adalah al-Ghumaisha’ binti Milhan, Ummu Anas bin Malik.” (HR. Muslim No. 2456 kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad No. 13102)

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan, cantik, tabah, bijaksana, lurus pemikirannya dan memiliki kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berahlaq mulia. Karena sifat sifat yang ada pada diri beliau, sehingga mendorong putra pamannya ( Malik Bin Nadhar ) untuk segera menikahinya, dari pernikahannya maka lahirlah Annas Bin Malik.

Al Gumaisha binti Ummu Sulaim adalah orang pertama yang masuk islam dari golongan anshar. Akibat keputusannya tersebut beliau harus menghadapi kemarahan dari suaminya        ( Malik Bin Nadhar ). Kemarahan suaminya dipicu karena istrinya ( Ummu Sulaim ) telah memeluk islam. Dengan berjalannya waktu Ummu Sulaim hidup menjanda sejak suaminya meninggal.

Kabar berita inipun didengar oleh Zaid Bin Sahal An Najjary alias Abu Thalhah.                   Maka dikarenakan kepribadian dari Ummu Sulaim membuat Abu Thalhah jatuh hati. Sehingga berkeinginan untuk melamar Ummu Sulaim untuk menjadi seorang istri sebelum laki laki lain mendahuluinya. Karena Abu Thalhah tahu banyak laki laki lain yang juga menyukai Ummu Sulaim. Abu Thalhah sangat percaya diri, ia merasa dirinyalah laki laki sempurna, menduduki status sosial tertinggi, dan kaya raya, selain itu terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, pemanah yang jitu

Saat akan meminang Ummu Sulaim, Abu Thalhah belum mengimani Islam. Tetapi hal ini tidak membuatnya ragu karena ia berfikir disaat Ummu Sulaim telah beriman kepada Allah dan Rasulullah dengan menganut agama islam, tetapi bukankah suaminya yang meninggal menganut agama nenek moyangnya, bahkan suaminya menentang Muhammad dan dakwahnya.

Setiba dirumah Ummu Salaim maka Abu Thalhah mengutarakan isi hatinya untuk meminang Ummu Salaim dengan mahar bergelimang harta kemewahan yang dimiliki Abu Thalhah.  Ternyata Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah. “Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu.” (Lihat an-Nasa’i VI/144).


Ungkapan tersebut sangat menyentuh Abu Thalhah, karena Ummu Sulaim bukanlah sosok wanita yang suka bermain main dengan rayuan kemewahan. Sungguh ia adalah perempuan yang cerdas. Timbullah pertanyaan didalah hati Abu Thalhah “apakah ia akan mendapatkan yang lebih baik dari Ummu Salaim untuk diperistri dan ibu dari anak anaknya kelak “ . Dan tanpa terasa lisan Abu Thalhah mengucapkan syahadat  “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan Islam sebagai mahar.

Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis dari Anas:
Aku belum penah mendengarr seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).
Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.
Setelah kita mengetahui kisah pernikahan dari Abu Thalhah dan Ummu Salaim, kita juga bisa belajar kesabaran Ummu Salaim.  Pembelajaran kesabaran Ummu Salaim berawal dari sakitnya anak mereka.  Dari pernikahan antara Abu Thalhah dan Ummu Salaim lahirlah anak laki laki yang diberi nama Abu Umair. Dengan hadirnya seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan dengan tingkah lakunya. Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai. Suatu ketika Abu umair sakit, dan sebagaimana kebiasaan yang dimiliki Abu Thalhah setelah pulang dari pasar, ia selalu bertanya, “Bagaimana anakku?’ dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.
Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka Ibu mukminah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridha dan baik. Sang ibu membaringkannya di tempat tidur sambil senantiasa mengulangi, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya.” Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan semangat menyambut suaminya dan menjawab seperti biasanya, “Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab, “Dia dalam keadaan tenang.”

Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena kahawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum, sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah karena beliau tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.” Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah berkata, “Berarti mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu.”

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah, “Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”
Beliau mengulangi kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, selanjutnya Anas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut ( yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi ). Anas berkata, “Berikanlah nama bayi ya Rasulullah!” beliau bersabda, “NamanyaAbdullah.”

Salah seorang rijal sanad berkata, “Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hafal Al-Qur’an.”

Di antara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua yang manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata,‘Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada di rumahnya, namun beliau menjawab, ‘Demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air“, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya sama. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya’. Maka berdirilah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata,‘Saya, ya Rasulullah’. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), “Apakah kamu memiliki makanan?” Istrinya menjawab,‘Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak’. Abu Thalhah berkata, ‘ Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk, maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan, maka berdirilah dan matikanlah lampu’. Hal itu dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut, sementara kedua suami-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah’.”

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian.”
Di akhir hadits disebutkan, maka turunlah ayat:
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”(Al-Hasyr: 9).
Abu Thalhah tak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan kabar gembira itu kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam Alquran yang senantiasa dibaca.
Selain berdakwah di lingkungannya, Ummu Sulaim juga turut andil dalam berjihad bersama pasukan kaum muslimin.
Anas berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka.”
Begitulah, Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim, bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli jannah.



Biografi Pemuda miskin dan buruk rupa “Zahid Aswad”


Pemuda yang hidup di zaman Rasulullah berusia 35 tahun, tinggal di Suffah Masjid Madinah. Ia adalah pemuda yang belum menikah pada waktu itu. Keinginannya menikah cukup besar tetapi ia minder dengan keterbatasan keadaan yang ia miliki. Hingga suatu saat ia ditanya Rasulullah “ Zahid apakah engkau sendiri “ Maksud Rasulullah menanyakan mengapa Zahid selama ini masih sendiri. Maka Zahid pun berkata “ Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan wajahku pun tak tampan, siapakah yang akan mau akan diriku ya Rasulullah “

Ketika saat itu Rasulullah tahu keinginan dan kebulatan tekad untuk  menikah, maka Rasulullah melamar Zulfah binti Said untuk Zahid melalui sepucuk surat yang ditujukan kepada Said  (ayahanda dari Zulfa binti Said). Perempuan ini adalah perempuan yang terkenal cantik dan anak seorang bangsawan Madinah yang kaya raya. Awalnya lamaran ini ditolak oleh Zulfah binti Said dikarenakan ia merasa dirinya akan terhina ketika dilamar zahid, karena masih ada pemuda tampan dan kaya raya yang juga menginginkan untuk menikahinya. Setelah permohonan maaf dari Said kepada Zahid dengan mengatakan “Wahai saudaraku, engkau sendiri tahu anakku tidak berkenan untuk dinikahimu, bukan aku yang menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak “. Mendengar nama Rasulullah disebut, Zulfah bertanya kepada ayahanda “ Wahai ayah mengapa engkau membawa nama Rasulullah”. Akhirnya Said menjelaskan kepada putrinya bahwa lamaran atasmu ini adalah perintah dari Rasulullah.  Maka seketika Zulfah beristigfar dan menyesal atas kelancangan perbuatannya, seraya ia berkata kembali bahwa ia berkenan untuk dinikahkan bersama Zahid jika memang ini permintaan Rasulullah. 

Zulfah teringat akan firman Allah :
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. ( surah An nur ayat 51)

Berita gembira ini segera disampaikan kepada Rasulullah dan Zahid pun mempersiapkan pernikahannya. Rasulullah menyarankan mendatangi Abu Bakar Uthman dan Abdurrahman bi Auf untuk mendapatkan uang yang cukup untuk bekal persiapan pernikahan. Setelah memperolehnya maka Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahan. Tetapi setelah dipasar Zahid pun mendengar pengumuman untuk berjihad dijalan Allah, dikarenakan orang kafir akan menyerang kaum muslimin.

Zahid pun beristighfar dan ia berkeinginan menggunakan uang yang semula sebagai bekal persiapan pernikahannya untuk membeli baju besi, kuda dan perlengkapan berperang berjihad dijalan Allah bersama Rasullullah. Zahid lebih memilih menunda penikahannya. Zahid membacakan surah At Taubah ayat 24 dihadapan para sahabat, firman Allah sebagai berikut :
“Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu daripada cintakan Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Akhirnya Zahid Aswad tetap memilih untuk maju ke medan pertempuran, dan ditangannyalah banyak kaum kafirin yang tewas. Tetapi pada akhirnya Zahid Aswad pun gugur dimedan perang sebagai mujahid yang mati syahid. Setelah mengetahui kematian Zahid, maka Rasulullah berkata “ Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik dari Zulfah “ . Rasulullah membacakan firman Allah  :
Janganlah kamu mengira bahwa orang-oorang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezaki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati. “ (surah Al Imran ayat 169-170)

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al Baqarah ayat 154)

Mendengar kabar kematian Zahid, maka Zulfah seraya berdoa “ Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendapinginya di dunia, izinkanlah aku untuk mendampinginya di akhirat kelak “. Masya Allah sebuah ekspresi cinta sejati karena Allah dan cinta yang bersemi karena kataatan kepada Allah dan titah Rasulullah



Minggu, 10 Januari 2016

Rasulullah dan Siti khadijah

Bagaimana siti khadijah menjaga maruwah diri dan memartabatkan dirinya dengan menjadi usahawan yg berjaya. Gambaran ini menujukkan bahwa wanita seharusnya berusaha menjdi insan yg dihornati dan berjaya dalam kehidupannya. Siti khadijah tidak bergantung kepada orng lain untuk menyokong dirinya, beliau juga membantu pedagang2 untuk mencari rejeki.

Setelah bercerai dengan suami yang pertama, banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Beliau untuk dijadikan istri, tetapi, Khadijah lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang kemudian dari hasil usaha yang di kelolanya, Beliau menjadi seorang yang  kaya.



Awal perkenalan Siti khadijah dengan Rasulullah.

Maka tidaklah mengherankan dengan kondisi yang demikian itu semakin banyak para pemuka Quraisy yang terhormat dan kaya raya ingin menjadikan Khadijah sebagai istri. Singkat cerita, semua tawaran tersebut ditolak oleh khadijah, karena hatinya telah tertambat pada pribadi yang terpercaya, jujur, profesional dalam bekerja, dan memiliki akhlaq yang mulia, ia adalah Muhammad. Dan Allah mentakdirkan mereka untuk menikah, walaupun pada waktu itu, umur Khadijah yang telah sampai di usia 40 Tahun kecantikannya tetap mempesona Muhammad yang berumur 25 tahun.

Keteladanan Khadijah sebagai seorang istri tidaklah diragukan lagi. Beliau selalu menunjukkan kredibilitas sebagai istri teladan umat.. Beliau mendukung penuh apa yang dilakukan suaminya.

Peran siti khadijah sebagai istri


  1. Walaupun khadijah kaya raya, tetapi pada pada masa masa awal kehidupan bersama Rasullullah dilalui dengan sebagai istri dari seorang pedagang kecil. Khadijah sangat rela menjalani cara hidup sederhana karena Muhammad SAW ( suaminya ) tidak ingin keluarganya hidup berlebihan pada saat banyak orang lain masih kekurangan. Tidak ada keluhan yang terucap dari bibirnya, Khadijah menyakini kemuliaan prinsip suaminya dan rela mengikutinya walaupun ia harus meninggalkan kenyamanan yang pernah menghiasi kehidupannya sebelumnya sebagai orang yang berkecukupan.
  2. Siti Khadijah adalah seorang wanita yang tajam pikirannya yang sangat mendorong suaminya (Nabi Muhammad SAW) untuk mencari hakekat kebaikan dan kebenaran yang mutlak dengan bertafakur, dan bertahannuts di dalam gua Hira`. Ketika Rasulullah menyendiri bertafakur, ingin menjauhi sifat dunia dan beribadah hanya kepada Allah di Gua Hira. Sepulang Rasulullah dari Gua Hira Siti Khadijah memberikan penyambutan yang sebaik baiknya sebagai seorang istri. Ketika Rasulullah ingin kembali ke Gua Hira.Siti Khadijah memberikan semangat kepada Rasulullah mempersiapkan makan dan minumnya.dan mengirim.beberapa orang untuk menjaga Rasulullah tanpa menggangu ibadah dan kesendiriannya. Sebenamya,bukanlah suatu perkara yang enteng bagi seorang isteri menahan kesabaran untuk suami yang sering meninggalkan rumah dengan alasan untuk beribadat,terutama pada zaman jahiliah yang penuh kemaksiatan dan kemungkaran.
  3. Khadijah adalah sosok wanita pilihan yang Allah amanahkan untuk mendampingi Nabi Muhammad SAW dalam menjalani tugasnya sebagai Rasul Allah. Ketika mendapatkan wahyu pertama di gua hira yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Rasulullah merasa ketakutan dan kembali kerumah, tubuhnya gemetaran dan panas dingin. Ia pun berkata kepada Khadijah "selimuti saya". Siti Khadijah lalu memberikan ketenangan kepada suaminya yang dalam keadaan gelisah, beliau coba sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburkan, sehingga suaminya (Rasulullah) benar-benar merasai tenang.
  4. Ketika suaminya menerima wahyu yg berisi perintah untuk berjuang menyiarkan agama Allah dan mengajak kaumnya kepada agama tauhid, Siti Khadijah adalah orang wanita pertama yang percaya bahwa suaminya adalah Rasulullah (Utusan Allah), dan kemudian ia menyatakan ke-Islam-an nya tanpa ragu-ragu dan bimbang sedikit juapun. Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang memeluk Islam, sehingga ia termasuk as-Sabiqun al-Awwalun (orang pertama yang memeluk islam). Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawa. Seorang pendorong utama bagi Rasul untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat di pundak Rasul. Pujian Rasul terhadap Khadijah “Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang   mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)
  5. Dengan keuletannya, kesungguhannya, kecerdasan dan ketelitiannya dalam menjalankan usaha perdagangan. Tetapi, semua usahanya itu tidaklah ia jadikan semata-mata untuk kesenangan yang bersifat keduniawian semata. Sebagaimana sabda Rasulullah, Khadijah dengan rela memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Tak terhitung kekayaan Khadijah yang diabdikan untuk perjuangan Rasulullah dalam menegakkan kalimat "laa illaha illallah", Khadijah tidak perduli kehilangan segalanya ketika kaum Quraish melakukan boikot selama tiga tahun, kekayaan yang tersisa ia gunakan untuk membeli makan secara diam diam bagi pengikut Rasulullah yang kelaparan karena mempertahankan iman mereka. Pengorbanan beliau secara tidak langsung difirmankan oleh Allah dalam surah al-Duha:6-8. 
  6. Khadijah tidak hanya mengorbankan harta dan kesuksesannya, jihad yang dilakukan Rasulullah tidak hanya mengorbankan harta dan kesuksesannya. Jihad Rasulullah dihiasi dengan penolakan, penganiayaan, caci maki, bahkan ancaman pembunuhan, tetapi Khadijah tidak pernah menjauh dari sisi suaminya dalam menapaki jalan terjal meski keselamatan dirinya dan keluarganya menjadi taruhan. Kesetiaan Siti Khadijah mendampingi Rasulullah dalam berjihad dilakukannya hingga akhir hayat. Sehingga Muhammad SAW yang akhirnya mengurus sendiri jenazah istri kesayangannya ini, dan menghantarkannya ke pembaringan terakhirnya di Mekkah dengan sebuah kalimat perpisahan "Sebaiuk baiknya wanita penghuni surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khiwalid "  

Dikarenakan sikap sitikhadijah tersebut Allah SWT mengirim salam kepadanya.  Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, Wahai Rosulullah, khadijah akan datang kepadamu dengan membawa bejana yang berisi cuka, makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Rabbnya dan dariku. Dan berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia berada di dalam sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari mutiara yang berongga yang tidak terdapat kegaduhan di dalamnya dan tidak pula keletihan”. [HR al-Bukhoriy: 3820, 7497].









Kamis, 07 Januari 2016

Pernikahan dlm Al Qur'an

Buat Murajaah

#Pertemuan 2

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١﴾

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. "

(Q.S.Ar Ruum [30]:21)

#Pertemuan 3

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿١﴾

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

(Q.S.An Nisa [4]:1)

#Pertemuan 4

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. "

(Q.S.Al Hujuraat [49]:13)

#Pertemuan 5

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."

(Q.S.An Nuur [24]:26)

#Pertemuan 6

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ ﴿٧٢﴾

"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?"

(Q.S. An Nahl [16]:72)

 #Pertemuan 7

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٤٩﴾

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). "

(Q.S.Adz Dzaariyat [51]:49)

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٦﴾

"Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui."

(Q.S.Yaa Siin [36]:36)